Tragedi Cinta Ditolak: Refleksi Moral bagi Generasi Intelektual

ROSBINNER HUTAGAOL

- Redaksi

Jumat, 27 Februari 2026 - 04:42 WIB

5061 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Utari Nelviandi, S.H., M.H., (Ketua Rumah Perempuan dan Anak/ RPA Provinsi Riau)

Pekanbaru, riau21.com – Peristiwa pembacokan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa terhadap mahasiswi di lingkungan kampus akibat cintanya ditolak adalah tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan dan melukai nurani kita bersama. Jum’at (27/02/2026).

Mahasiswa adalah simbol nalar, moralitas, dan perubahan sosial. Mahasiswa adalah agen intelektual yang dibentuk untuk berpikir kritis, menjunjung etika, serta menyelesaikan persoalan dengan akal dan dialog bukan dengan senjata dan kekerasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, tindakan pembacokan tersebut adalah penyimpangan pribadi, bukan representasi dunia kemahasiswaan.

Kami menegaskan dengan tegas: tidak ada luka yang lahir dari cinta. Tidak ada kekerasan yang bisa dibenarkan oleh penolakan.

Cinta sejatinya adalah perasaan yang memuliakan, bukan merendahkan.

Cinta yang sehat tumbuh dari rasa hormat, kesadaran, dan keikhlasan.

Ketika seseorang menyatakan perasaan, maka ia juga harus siap menerima segala kemungkinan jawaban, termasuk penolakan.

Penolakan bukan penghinaan, bukan pula bentuk perendahan martabat.

Penolakan adalah hak setiap individu atas dirinya sendiri.

Tindakan kekerasan karena cinta ditolak menunjukkan adanya kegagalan dalam mengelola emosi, kegagalan dalam memahami makna cinta yang sesungguhnya, dan kegagalan dalam menghormati batas serta pilihan orang lain.

Tidak ada satu pun ajaran agama, nilai moral, maupun norma sosial yang membenarkan pelampiasan emosi dengan cara melukai orang lain.

Cinta yang dewasa tidak memaksa.

Cinta yang tulus tidak mengancam.

Cinta yang benar tidak melukai.

Kita harus menjadikan peristiwa ini sebagai momentum refleksi bersama. Kampus dan seluruh elemen masyarakat perlu memperkuat pendidikan karakter, literasi emosional, serta kesadaran tentang relasi yang sehat dan setara.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kekerasan berbasis relasi personal adalah bentuk nyata dari ketidakmampuan mengelola ego dan amarah.

Tidak ada alasan apa pun yang dapat menghalalkan tindakan melukai, apalagi hingga membahayakan nyawa.

Setiap individu memiliki hak atas rasa aman dan hak untuk menentukan pilihan tanpa intimidasi.

Kami mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk membangun budaya cinta yang beradab, cinta yang menghormati, bukan menguasai; cinta yang menerima, bukan memaksa; cinta yang mendewasakan, bukan menghancurkan.

Mari kita tegaskan kembali:

Penolakan bukan alasan untuk kekerasan.

Kekecewaan bukan pembenaran untuk melukai.

Dan cinta sejati tidak pernah meninggalkan luka.

Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga agar tidak pernah terulang kembali, dan menjadi pengingat bahwa kematangan emosi adalah bagian dari kedewasaan iman, akal, dan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, cinta yang benar selalu memuliakan.

Dan iman yang matang selalu menahan tangan dari menyakiti dan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kematangan hati dan akhlak adalah fondasi utama dalam setiap relasi antar manusia.

 

Sumber: Ketua Rumah Perempuan dan anak/RPA Provinsi Riau

(Ros.H)

Berita Terkait

Polda Riau Rebus 100 Kg Sabu dan Ganja Jaringan Internasional
Hutan Dibakar Sawit Mekar, HMI Pekanbaru Sambangi DPRD Dikawal Polresta
Dilatih Pijat Tradisional, Warga Binaan Lapas Pekanbaru Siap Mandiri Usai Bebas.
Pria 61 Tahun Ditemukan Meninggal di Dapur Rumahnya di Limbungan Pekanbaru
Perkuat Silaturahmi, Wakapolda Riau Ibadah Minggu Kasih di GPIB Immanuel Pekanbaru
1.000 Masker Dibagikan PWMOI Riau dan Polsek di Tengah Kabut Asap
Belum Miliki Sertifikat Standar, 7 Tempat Biliar di Pekanbaru Terjaring Sidak
Kwarran Lima Puluh Resmi Dilantik, Kwarcab Dorong Sinergi

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Usia 63 Hari, Jagung Pipil Sabak Auh Tumbuh Subur

Rabu, 21 Oktober 2026 - 06:01 WIB

Cegah Bullying dan Bolos, Polsek Sabak Auh Sambangi SMAN 1 Sabak Auh

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:05 WIB

49 Hari Tumbuh Subur, Polsek Sabak Auh Rutin Cek Jagung

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Polsek Sabak Auh Cek Rutin Jagung Pipil di Belading Dukung Swasembada

Selasa, 13 Oktober 2026 - 16:57 WIB

Polsek Sabak Auh Cek Pertumbuhan Jagung Dukung Swasembada Pangan

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:34 WIB

Polsek Sabak Auh Pantau Jagung Pipil Usia 46 Hari di Belading

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:31 WIB

Jagung Pipil di Kampung Belading Dicek Polsek Sabak Auh Dukung Swasembada

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:34 WIB

Polsek Sabak Auh Tanam 200 Pohon Dukung Program Hijau Riau

Berita Terbaru

Polsek Sabak Auh rutin turun langsung cek pertumbuhan jagung pipil 0,5 hektar usia 63 hari bersama petani di Jl. Siak-Pakning RT l/RW l Kampung Belading Kec. Sabak Auh Kab. Siak, Jumat (30/10/2026). Kegiatan dukung swasembada jagung 2026. (Foto: Dok. Humas Polsek Sabak Auh)

Siak

Usia 63 Hari, Jagung Pipil Sabak Auh Tumbuh Subur

Jumat, 30 Okt 2026 - 12:42 WIB

Pangkal Pinang

BBPOM Pangkalpinang Luncurkan SIDULANG POM di MPP Bangka Tengah

Rabu, 21 Okt 2026 - 13:06 WIB