Literasi Perempuan Jadi Kunci Gerakkan Perubahan Sosial
Sekretaris Umum DPD IMM Riau Hanifah Putri Purnomo menegaskan penguatan literasi perempuan penting untuk menjawab tantangan global dan menggerakkan perubahan sosial.
PEKANBARU, riau21.com – Penguatan literasi perempuan dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menghadapi berbagai tantangan global saat ini. Mulai dari perkembangan teknologi digital, perubahan iklim, ketimpangan sosial, hingga disinformasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Riau, Hanifah Putri Purnomo, dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
“Literasi tidak lagi sebatas membaca dan menulis. Di era modern, literasi mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menggunakan teknologi secara bijak, serta mengambil keputusan berdasarkan nilai yang benar,” ujar Hanifah.
Perempuan Berkemajuan Lewat Literasi
Menurut Hanifah, perempuan memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial. Peran perempuan tidak hanya di ranah keluarga, tetapi juga di bidang pendidikan, ekonomi, politik, kesehatan, hingga ruang publik.
Perempuan berkemajuan, lanjutnya, adalah perempuan yang mengembangkan diri berlandaskan ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan semangat memberi manfaat bagi masyarakat.
“Melalui literasi, perempuan dapat memperluas wawasan dan tidak mudah menerima informasi mentah. Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi membantu perempuan menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bertanggung jawab,” katanya.
Ia menambahkan, literasi juga mencakup kesehatan, finansial, hukum, politik, dan lingkungan.
Semakin luas literasi yang dimiliki perempuan, semakin besar kapasitasnya dalam mengambil keputusan yang berdampak bagi diri, keluarga, dan masyarakat.
Jadi Penggerak Perubahan Sosial
Hanifah menegaskan perubahan sosial tidak selalu dimulai dari hal besar.
Aksi sederhana seperti membiasakan anak membaca, memberikan edukasi kesehatan, hingga menggunakan media sosial untuk informasi edukatif merupakan contoh nyata peran literasi.
“Perempuan memiliki kemampuan menjadi penghubung antara pengetahuan dan kehidupan sosial. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata,” ujarnya.
Di tengah tantangan global seperti kecerdasan buatan, otomatisasi pekerjaan, dan ketidakpastian ekonomi, perempuan perlu dipersiapkan menjadi aktor, bukan hanya konsumen perubahan.
Butuh Ekosistem yang Mendukung
Hanifah menilai penguatan literasi perempuan tidak bisa dibebankan hanya kepada perempuan. Diperlukan dukungan keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas.
Ia mendorong 4 langkah utama, membangun ekosistem literasi perempuan:
1. Budaya belajar sepanjang hayat, melalui buku, artikel, podcast, hingga diskusi komunitas.
2. Penguatan literasi digital, agar perempuan dapat menggunakan teknologi secara produktif, aman, dan etis.
3. Perluasan ruang komunitas belajar, sebagai tempat bertukar gagasan dan solusi.
4. Menghubungkan literasi dengan aksi. Seperti pemberdayaan ekonomi, kampanye kesehatan, dan perlindungan lingkungan.
“Menjadi perempuan berkemajuan bukan berarti meninggalkan nilai dan budaya. Kemajuan harus berjalan beriringan dengan moralitas dan tanggung jawab sosial. Perempuan berkemajuan adalah yang mampu mengubah wawasan menjadi tindakan dan tindakan menjadi kebermanfaatan,” pungkas Hanifah.
Sumber: DPD IMM Riau
Penulis: Sekretaris DPD IMM, Hanifah Putri Purnomo
Editor: Rosbinner Hutagaol





























