Dhimas Sriagung Mulya S kritik keras kelangkaan BBM di Riau. Desak audit distribusi & tindak tegas mafia. “Rakyat butuh kehadiran negara, bukan janji.”
TAPUNG-RIAU – Minggu (3/5/2026), riau21.com / Krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Riau menuai kritik keras dari tokoh pemuda Desa Indrasakti, Dhimas Sriagung Mulya S. Ia menilai kondisi ini cerminan lemahnya tata kelola distribusi energi di daerah.
“Ini bukan sekadar kelangkaan, ini kegagalan. Bagaimana mungkin daerah penghasil minyak justru membuat rakyatnya mengantre berjam-jam untuk dapat BBM?” tegas Dhimas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, masalah utama terletak pada lemahnya pengawasan dan tidak transparannya sistem distribusi.
“Pola terus berulang: langka, masyarakat rugi, tak ada solusi konkret. Ini menunjukkan ada yang salah secara sistemik,” ujarnya.
Dhimas juga menyoroti `dugaan` praktik penimbunan hingga potensi penyalahgunaan BBM bersubsidi.
“Jika dibiarkan, negara sedang kalah di hadapan kepentingan segelintir pihak. Rakyat yang jadi korban,” katanya.
Dampaknya tak sepele: ganggu aktivitas harian, picu kenaikan biaya hidup, tekan usaha kecil, dan perlambat ekonomi daerah.
“Ini soal dapur masyarakat, soal roda ekonomi tersendat. Pemerintah harus berhenti meremehkan,” tambahnya.
Ia mendesak 4 langkah: audit terbuka distribusi BBM, penindakan tegas mafia penimbun, transparansi data pasokan ke publik, dan penguatan pengawasan hingga desa.
“Rakyat tidak butuh janji. Rakyat butuh kehadiran negara. Jika pemerintah lamban, wajar publik mempertanyakan keberpihakan kekuasaan,” ujarnya.
Dhimas mengajak masyarakat sipil, mahasiswa, dan pemuda untuk tidak diam.
“Diam adalah pembiaran. Riau tidak boleh jadi paradoks: kaya sumber daya, tapi rakyatnya menderita,” pungkasnya.
Sumber: Dhimas Sriagung.
Reporter: Noni
Editor: Rosbinner.Hutagaol





























